Assalamualaikum juragan, ane punya cara ni, agar usaha juragan lebih maju, maka dari itu gan baca artikel ane ya. Sapi Potong atau dalam bahasa jawa disebut sapi lemusin ini teryata dagingnya sangat dibutuhkan di indonesia gan. Indonesia selama ini masih kekurangan stok daging sapi, sehingga negara ini harus mengimpor dari luar negri. Kok bisa, sapi potong aja beli dari luar negri? Gini gan ceritanya, dari tahun ketahun kebutuhan akan daging sapi potong ini terus meningkat, sementara stok yang tersedia dalam negri masih kurang, karena pertumouhan populasi sapi potong ini sangat lamban, dari tahun ketahunnya hanya berkisar 5% saja, impor sapi bibit pada tahun 2005
mencapai 4.600 ekor atau setara dengan
US$1.921.600, bakalan 265.200 ekor
(US$107.731.000), daging sapi 21.484.000
ton (US$ 603.812.700), dan hati sapi
34.436.000 ton (US$3.803.800). Dari total
impor daging dan sapi bakalan tersebut,
30% di antaranya berasal dari Australia,
Selandia Baru, dan Amerika Serikat (Koran
Tempo 2008). untuk itu saya mengajak juragan untuk membuka usaha ternak sapi potong, cara ternaknya mudah tapi hasilnya luar biasa.
1. CARA TERNAK SAPI POTONG
1.1 Sarana dan Peralatan
Sarana dan Peralatan merupakan hal yang mutlak dalam berternak sapi, berikut ini adalah sarana dan peralatan dalam berternak sapi
1.1.1 Kandang

Kandang bisa di bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah
sapi yang dimiliki juragan. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada
satu baris . Pada kandang tipe ganda
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan dan tengahnya sisakan jalur
untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) berbentuk
tunggal bila sapinya hanya sedikit. Namun, apabila
kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus
lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih
banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya
berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah
dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai
alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci
hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa
adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x
2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m. Perlengkapan yang harus dipenuhi dalam pembutan kandang, yaitu : tempat pakan dan minum yang diletakkan diluar kandang, sapu, sikat, sekop, sabit, tempat mandi, dan tempat kawin.
1.2 Pembibitan
Dalam berternak sapi potong pembibitan harus diperhatikan dan dan dilakukan dengan baik. adapun yang harus diperhatikan dalam berternak sapi potong, bibit sapi potong yang baik, yaitu : mempunyai tanda telinga, matanya tampak cerah dan bersih, pernafasan tidak keluar lendir, kukunya tidak panas, tidak ada hama dan penyakit yang menempel pada kulit dan bulunya, tidak ada tanda mencret pada bagian ekor dan dubur, bulu tidak rontok, pusar bersih dan bening, tubuh besar berbentuk segi empat/bola, laju pertumbuhan cepat.
1.3 Pemeliharaan
pemeliharaan merupakan tahap yang paling rumit dalam ternak sapi potong. Pemeliharaan mencakup penyediaan pakan dan pengolahan kandang. Adapun tujuan penyediaan pakan dan pengolahan kandang, yaitu : Melindungai sapi dari hujan dan panas terik matahari, mempermudah perawatan dan pengawasan, Dapat memantau keehatan dan keamanan sapi, Dapat terpenuhi asupan gizi, menambah energi, mempercepat pertumbuhan dan penggemukan, menambah tenaga.
Makin baik kualitas dan mutu pakan yang diberikan pada sapi maka makin besar tenaga
yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk
daging. Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan
(Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama
dan kedua.
Penggembalaan dapat dilakukan sekitar 5-7 jam per hari, sehingga menghemat tenaga dan biaya untuk pakan dalam kandang. Pakan tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil
kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam
rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat
berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan
jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara
penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam
hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan
tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput
gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan
tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering
adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb.
1.4 Penyakit Pada Sapi
Sapi potong merupakan hewan yang rentan terhadap penyakit. penyakit yang biasa diderita sapi potong, yaitu :
- Penyakit antraks Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung,
makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: demam tinggi, badan lemah
dan gemetar, gangguan pernafasan, pembengkakan pada kelenjar
dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul, kadang-kadang darah
berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan
vagina, kotoran ternak cair dan sering bercampur darah, limpa
bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan
antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi
yang mati.
- Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air
susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: rongga
mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan
bulat berisi cairan yang bening, demam atau panas, suhu badan menurun
drastis, nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali, air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit
diasingkan dan diobati secara terpisah,
- Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan
minuman yang tercemar bakteri. Gejala, kulit kepala dan selaput lendir
lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan, leher, anus, dan vulva
membengkak, paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam
dan berwarna merah tua, demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang
yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu
antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika
atau sulfa.
- Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan
kotor. Gejala: mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan
cairan putih keruh, kulit kuku mengelupas, tumbuh benjolan yang
menimbulkan rasa sakit, sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
1.4 Pengendalian
Ada pepatah yang mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengobati. Ternak sapi yang baik harus pula ada menejemen pengendalin penyakit yang baik. pengendalian penyakit yang baik adalah menjaga kesehatan sapi dengan selalu memantau kesehatan sapi, dengan cara menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan
sapi, Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan
pengobatan, Mengusakan lantai kandang selalu kering, Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai
petunjuk.
2. Panen
2.1 Hasil Utama dan Tambahan
Hasil utama yang diperoleh dari ternak sapi potong adalah daging yang memiliki kualitas tinggi. Kulit sapi juga bisa dimanfa'atkan sebagai bahan kerajinan dan kesenian. kotoran sapi bisa dibuat biogas dan pupuk kompos
3. Pasca Panen
3.1 Pemotongan
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi
agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu: Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan, ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat
mencemari daging, pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang
diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara
tuntas, semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah
dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
3.2 Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan
menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika
sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur
dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan
sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat
3.3 Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan
dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
3.4 Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas
berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat
dikonsumsipun tinggi.